Menjadi Manager Baru? 7 Rooms for Improvement yang Perlu Anda Perhatikan


gambar: Generated by AI

“Before you are a leader, success is about growing yourself. When you become a leader, success is about growing others.” — Jack Welch

Kanita baru saja mendapatkan tugas baru. Ia menjabat sebagai Kepala Subdivisi Pengembangan Bisnis, posisi yang sudah lama kosong karena personel lama promosi ke divisi lain. Semua orang mengakui kompetensinya. Ketika seluruh proses lelang jabatan yang diikutinya selesai dan hasilnya menunjukkan Kanita sebagai orang nomor satu, tidak ada seorang pun yang mengajukan komplain.

Beberapa hari setelah menjabat, Kanita mulai merasakan hambatan. Semua teori manajemen yang ia pelajari untuk menduduki jabatan barunya ini ternyata memerlukan penyesuaian. Kanita teringat ucapan seniornya bahwa dalam memimpin diperlukan perpaduan antara art and science. Diperlukan keseimbangan.

Beberapa proyek yang sebelumnya Kanita tangani di jabatan lama masih ia kerjakan sendiri, padahal sudah ada rekan timnya yang pernah mengerjakannya. Namun, Kanita masih ragu untuk melepasnya. Akibatnya, proyek lain yang belum pernah ia tangani tetapi menjadi tanggung jawabnya justru tidak terkelola dengan baik.

Beberapa mantan rekan kerjanya yang kini menjadi anggota timnya sering memberikan umpan balik, tetapi pola kerja Kanita masih seperti sebelumnya. Hingga akhirnya, Kanita mendapatkan coaching dari Kepala Divisinya. Ia diingatkan agar lebih memperhatikan kepentingan anggota timnya karena kini ia berperan sebagai team leader, bukan lagi sebagai anggota tim.

Kejadian seperti ini sering diamati oleh penulis. Apabila tidak dilakukan perubahan, maka harapan manajemen terhadap personil seperti Kanita tidak akan tercapai. Perubahan peran membutuhkan perubahan pola pikir, bukan sekadar perubahan jabatan.

Lalu bagaimana solusinya?

Tenang saja, seperti biasa blog kesayangan Anda ini akan memberikan referensinya.

Berikut 7 rooms for improvement bagi Kanita dan juga bagi Anda yang membutuhkannya:

Temukan Mentor atau Coach yang Tepat
Ada banyak orang yang telah berpengalaman pada jabatan yang kini diemban Kanita. Jabatan tersebut bukanlah hal baru bagi mereka yang telah lebih dahulu menjalaninya. Kanita segera mencari mentor dan banyak bertanya agar tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi.

Bayangkan apabila Kanita tidak pernah berdiskusi dengan para seniornya. Akan ada banyak sumber daya yang tidak teralokasi dengan baik karena salah arah. Apabila Kanita telah mendapatkan mentor atau coach, ia dapat bergerak lebih cepat tanpa harus memikirkan semuanya sendiri. Kuncinya, Kanita harus rajin berdiskusi dan terbuka terhadap arahan.

Mentor atau coach  yang tepat dapat mempercepat proses belajar yang seharusnya memakan waktu bertahun-tahun.

Terus Belajar Tanpa Henti
Ada yang berpendapat bahwa setelah bekerja seseorang tidak perlu belajar lagi. Pendapat tersebut keliru. Penulis pernah bertemu dengan seorang narasumber yang mengatakan bahwa tempat kerja adalah universitas dengan banyak fakultas, sehingga selalu ada kesempatan untuk belajar.

Kanita harus banyak belajar karena situasinya kini berbeda. Jika sebelumnya ia mengikuti arahan (follow order), sekarang ia harus memberikan arahan (give order). Ia juga harus belajar bagaimana menjadi pemimpin yang efektif.

Apabila Kanita hanya mengandalkan pengetahuannya ketika masih menjadi anggota tim, ia akan kesulitan saat melakukan koordinasi dan memberikan penugasan proyek baru. Dengan rajin belajar, Kanita akan berkembang dan berpeluang menjadi pemimpin yang berpengetahuan.

Belajar bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan dalam setiap fase kepemimpinan.

Kurangi Kecenderungan Micromanaging
Kanita harus mulai mendelegasikan tugas kepada anggota timnya. Tidak mungkin ia selalu siaga untuk memantau secara langsung setiap pekerjaan. Kanita perlu memiliki panduan lead measures dan lag measures, lalu menyepakati periode monitoring dan evaluasinya.

Apabila hal ini tidak dilakukan, Kanita akan kewalahan mengatur waktu. Seiring dengan promosi jabatannya, ia juga akan semakin sering mengikuti rapat manajemen.

Melalui pendelegasian tugas yang tepat—tanpa mengurangi tanggung jawabnya sebagai pemimpin—tim dapat bergerak lebih cepat tanpa harus terus-menerus menunggu arahan.

Delegasi yang baik bukan berarti melepas tanggung jawab, tetapi mengelola tanggung jawab dengan lebih efektif.

“Tentunya,  mentor atau coach  yang tepat dapat mempercepat proses belajar yang seharusnya memakan waktu bertahun-tahun.”

Berani Memberikan Teguran Secara Profesional
Hal ini cukup menantang bagi Kanita karena anggota timnya dahulu adalah rekan kerjanya. Pada awal pengangkatan jabatan, Kanita perlu menyampaikan komitmennya untuk bekerja secara lebih profesional dan membangun konsensus dengan timnya.

Teguran tidak perlu disampaikan dengan emosi yang meledak-ledak. Teguran dapat dilakukan secara one-on-one dan berfokus pada performa, bukan pada persoalan pribadi. Kanita dapat memberikan coaching agar komitmen perbaikan dikendalikan oleh anggota timnya sendiri.

Apabila terdapat penyimpangan dalam rencana kerja dan tidak ada teguran yang diberikan, maka proses kerja dapat terganggu dan tujuan proyek tidak tercapai.

Teguran yang tepat waktu adalah bentuk kepedulian terhadap kualitas kerja tim.

Sebelum lanjut, yuk baca artikel terkait lainnya:

Optimalisasi Waktu AndaKebiasaan Agar menjadi Produktif, Sukses Meniti Karir, Manajemen Konflik, dan Tips Pemecahan Masalah.

 

Kelola Tekanan dengan Lebih Tenang
Tekanan kerja meningkat ketika Kanita berada di posisi barunya. Jika dahulu target pekerjaan mingguan atau bulanan hanya satu atau dua proyek, dan itu pun sebagai bagian dari tim, kini tanggung jawabnya jauh lebih besar.

Sebagai Kepala Subdivisi, proyek yang harus ia deliver kepada Kepala Divisi bisa lebih dari dua dalam satu waktu. Kanita harus mampu membagi waktu untuk monitoring, evaluasi, rapat penting, dan pengambilan keputusan.

Kanita perlu mengelola tekanan dengan baik dan tidak bersikap terlalu reaktif. Reaksi yang berlebihan terhadap tekanan tidak akan menyelesaikan masalah, terlebih jika pola koordinasi belum tertata dengan baik.

Ketika pemimpin tenang, tim pun akan lebih stabil dalam menghadapi tantangan.

Hargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Sebagai atasan, seseorang sering tergoda untuk hanya melihat hasil akhir. Namun, pemimpin yang baik juga perlu memahami dan mengapresiasi proses yang dijalankan timnya.

Dengan memahami proses, Kanita dapat melihat bagian mana yang perlu diperbaiki dan tahap mana yang belum optimal. Bisa saja hasil yang diterima terlihat baik, tetapi prosesnya tidak sesuai dengan aturan atau standar yang berlaku.

Apabila Kanita hanya fokus pada hasil tanpa memahami prosesnya, maka praktik terbaik tidak akan terduplikasi pada proyek berikutnya. Dengan mengetahui bagaimana proses berlangsung, Kanita dapat menjalankan perannya sebagai pemimpin dengan lebih utuh.

Proses yang baik adalah fondasi bagi hasil yang berkelanjutan.

Buka Diri untuk Menerima Feedback
Dengan jabatan barunya, Kanita perlu membuka diri untuk menerima umpan balik. Namun, Ia juga harus menyadari bahwa tidak semua feedback bersifat positif; akan ada juga yang negatif. Kanita perlu memilahnya untuk pengembangan diri.

Apabila feedback yang membangun diabaikan, maka langkah yang diambil dapat semakin jauh dari jalur yang seharusnya. Harapan manajemen terhadap kontribusi Kanita di jabatan barunya pun tidak akan tercapai secara optimal. Feedback dapat menjadi energi baru agar setiap tindakan yang dilakukan terus mengalami perbaikan.

Semoga bermanfaat.

Call to Action
Minggu ini, coba lakukan hal berikut:
☐ Hubungi satu senior atau mentor untuk berdiskusi tentang tantangan Anda
☐ Delegasikan satu tugas yang selama ini selalu Anda kerjakan sendiri
☐ Lakukan satu sesi one-on-one yang fokus pada mendengar, bukan berbicara
☐ Berikan satu apresiasi tulus kepada anggota tim
☐ Minta satu feedback jujur tentang gaya kepemimpinan Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *